• Komputer,  Omong Kosong

    Demam Text

    Di OSNews.com ada artikel dengan judul The plain text project. Begitu baca langsung aja dalem hati teriak “Gue banget tuh!” (soalnya posisi lagi di kantor, jadi teriaknya dlm hati aja). Begitu saya buka, ternyata isinya tentang orang yang senang memakai plain text untuk menyimpan informasi/catatan pribadi. Bener2 gua banget dah, karena terus terang aja, file text saya nyebar dimana-mana. Kalo yg punya web mending, dia teratur, tapi karena saya gak bisa nentuin ini kelompok yg mana, akhirnya saya simpen lagi di file text terpisah. Pas giliran mau baca lagi lupa itu file ditaro dimana.

    Tapi berkat informasi dari website itu, saya bisa kenalan sama TiddlyWiki. TiddlyWiki dirancang untuk menyimpan informasi dalam bentuk artikel wiki, tapi disimpan dalam 1 file html. Waktu saya download gedenya 2MB. Yang bikin ill-feel cara nyimpen datanya. Pusing. Udah nyoba yg pake php (biar bisa diakses dari mana aja) tapi gagal terus. Ada juga yg pake local storage nya browser, tapi ini data bisa hilang kalo gak di-export, dan nyoba exportnya kok gak ada yg enak gitu. Terakhir saya pake yg versi NodeJS, karena termux di Redmi2 saya udah saya pasangin nodejs jadi bisa tuh bikin di komputer, filenya di-zip terus di upload ke server, nanti dari termux di download dan di-extract ke folder data TiddlyWiki di hape. Memang agak ribet, tapi lumayan lah.

    Kalo dipikir2, TiddlyWiki ini mirip sama program saya yg NoteJS. NoteJS benar2 offline (tidak mengirimkan data keluar), bisa diakses langsung htmlnya di browser (gak harus pake hosting server), dan kerennya NoteJS bisa export dan import data dalam 1 file yang terenkripsi. Minusnya cuma 1, karena gak nyimpen apa2, jadi tiap kali mau “lock data” selalu nanya passwordnya dengan konfirmasi (jadi 2x ngisi password), soalnya kalo password lock-nya disimpen (dimanapun mau cookie, variable, atau apapun) pasti bisa kebaca sama orang.

    Sebenernya saya mau yg kaya TiddlyWiki begini, tapi ada beberapa feature tambahan:
    o File program hanya dalam 1 file html (yg ini udah).
    o Data disimpan di lokal (lebih disukai: sqlite; blm ada yg bikin).
    o Bisa export dan import dari 1 file (yg ini kurang bagi saya).
    o Bisa export data ke web (hosting gratisan, yg ini blm).
    o Bisa import data dari web (hosting gratisan).

    Sebenernya bisa aja sih modif NoteJS biar bisa nyimpen di web. Kan udah punya domain sendiri juga. Tapi sebagai programmer malas, saya harus rela nyari2 yg udah ada dulu.

  • Omong Kosong

    Kenapa?

    Waktu baca buku Senopati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto (alm), sempat muncul pemikiran di benak saya bahwa segala macam intrik Halayudha untuk mengadu domba, melancarkan fitnah tidak akan bisa tercapai apabila ada komunikasi langsung antara pimpinan dan bawahan. Karena hanya ada jalur informasi eksklusif dari dan menuju raja, maka pemegang jalur eksklusif itu mempunyai peran yang sangat vital. Dan jika yang memegang peranan itu bersifat licik seperti Halayudha, maka yang terjadi adalah malapetaka.

    Saya mengandaikan cerita pada sebuah kerajaan itu pada Indonesia jaman sekarang (pada waktu itu masih sekitar tahun 2007/2008). Saya yakin kejadian dalam novel itu tidak akan pernah terjadi di jaman canggih seperti sekarang ini, karena jalur komunikasi sudah sangat terbuka, Presiden pasti punya lebih dari satu jalur informasi. Apalagi kalau internet sudah benar-benar merambah ke seluruh masyarakat, maka tidak akan ada lagi yang namanya fitnah, karena semua bisa dikonfirmasi dengan mudah.

    Tapi saat ini, ketika internet nyata-nyata menyentuh peloksok daerah di Indonesia, ternyata pemikiran saya terbukti salah, malah bertolak belakang dengan kenyataan. Sentuhan teknologi informasi yang mudah dan merambah ke segala peloksok negeri malah menimbulkan disinformasi massif, fitnah massal, bahkan memicu kerusuhan yang menuai korban jiwa.

    Orang-orang percaya bahwa penyakit kanker itu tidak ada, hanya karena melihat konten youtube dengan suara digital dari google. Mereka “menuduh” dokter berbohong dan lebih mempercayai pembuat konten yang kita tidak tahu latar belakang pendidikannya apa, kompetensinya dalam bidang kedokteran yang gak jelas, bahkan nama aslinya pun disembunyikan.

    Dan orang lebih percaya fitnah berantai lewat sosial media daripada situs berita resmi yang memegang teguh integritas pers, menuding bahwa media-media nasional itu hanya “corong pemerintah” yang beritanya sudah diatur sesuai keinginan pemerintah.

    Dan saya akhirnya nyerah, sesudah mencoba memikirkan dan bertanya-tanya “Kenapa?”.

  • Memori,  Omong Kosong

    Flashback: Semasa SD

    Semasa kecil saya sekolah di SD Negeri 01 Pagi, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara. Kompleks rumah tinggal saya tepat di sebrang pintu gerbang sekolah saya. Jadi saya gak bisa bolos dan main2, pasti ketahuan. Teman semasa SD biasanya lumayan dekat, karena 6 tahun sekolah bersama, biarpun begitu tetap saja teman baik saya hanya sedikit. Ada beberapa orang yang sampai saat ini masih saya ingat (minimal namanya), karena menurut saya bukan pelanggaran privasi, saya sebut saja namanya disini: Hersal Doddy Mulyawan, Andi Riadi, Eko Purnomo. Saya masih ingat beberapa nama lain, tapi karena tidak terlalu akrab, saya tidak sebut disini.

    Ada event yang entah kenapa melekat di kepala saya, suatu hari saat kelas 4 atau kelas 5 (saya lupa tepatnya), pada hari peringatan Isra’ Mi’raj di sekolah saya tidak ada acara yang lumayan besar (biasanya pake panggung di lapangan), cuma seingat saya cuma pakai 2 ruang kelas yang sekatnya dibuka dan pakai pengeras suara. Karena tidak ada ustadz, kalo gak salah yang ceramah itu Ibu Kepala Sekolah.

    Ibu Kepala Sekolah cerita, pada saat dia ke Mekkah, dia sempat mencium batu hitam yang wangi namanya Hajar Aswad. Dan ketika acara selesai, saya beserta dua teman dekat saya: Andi dan Eko (si Dodi gak tau kemana, lupa) ngobrol sambil jalan menuju gerbang sekolah. Saya lupa perkataan persisnya, tapi Andi heran ada batu hitam yang wangi, terus dia ngomong: pokoknya kalo kita udah gede nanti, kalo ada yang ke Mekkah harus liat batu hitam itu, nanti kasih tau ke yang lain kalo batu itu benar2 ada. Sesudah sampai pintu gerbang sekolah, kami bertiga berpisah, Eko ke arah kanan, Andi ke kiri dan saya lurus ke depan.

    Dan entah kenapa, setelah bertahun-tahun berlalu, saya masih ingat janji tiga orang bocah SD itu. Saya gak tau apakah mereka ingat janji yang pernah kami ikrarkan itu. Dan sampai saya menulis blog ini saya belum pernah ke Mekkah, gak tau si Andi atau Eko. Di tahun 2005 entah kenapa saya ingat kejadian itu, yang lalu saya jadikan puisi untuk mengenangnya.

    Ingkar Janji

    semasa kecil kita pernah bermimpi
    ah, kau bilang itu janji
    suatu saat nanti, bersama, kita ke tanah suci
    saksikan bahwa hajar aswad memang hitam
    buktikan bahwa hajar aswad memang wangi

    tapi kau ingkar janji
    kau hadap Illahi tanpa ke tanah suci
    aku tahu kau tanya pada-Nya
    tentang tanah suci dan batunya yang wangi
    dan menyimpan jawab-Nya untukmu sendiri

    :: 27.07.2005 (where are you now?)

    Btw, tadi salah satu nama saya cari di google, dan muncul persis namanya. Ada di daftar relawan Prasan (ada account IG-nya). Saya cari di twitter juga dapet, tapi gak bisa dm. Akhirnya saya dm di IG, gak tau deh dia aktif di IG apa nggak.

  • Omong Kosong

    Aku Adalah

    Saya punya banyak cerita (fiksi), tapi masih berupa draft semua, cuma alur2nya aja. Saya agak sulit untuk menentukan karakter, dalam sebuah cerita harusnya seorang (sebuah karaker) harus punya ciri tersendiri dan harus konstan (tidak berubah). Untuk itu saya butuh latihan untuk mendefinisikan karakter-karakter yang harus saya buat. Salah satu caranya adalah dengan mencoba mendeskripsikan diri saya sendiri dalam kata-kata, makanya saya buat posting ini: Aku Adalah…

    • Lelaki yang tak pernah lelah mencari wanita… (eh salah, ini mah lirik lagu).
    • Programmer pemalas yang selalu mencari solusi dari orang lain sebelum meramu solusinya sendiri (thanks to stackoverflow.com).
    • Insan yang tak punya… (halah, lirik lagu lagi).
    • Pengendara motor yang liat kiri-kanan sebelum lewat pelican crossing yang lampunya lagi merah.
    • Anak gembala… (ini jelas-jelas lirik lagu).
    • Programmer hobbyist yang kerja jadi programmer professional yang kalo lagi bete ngerjain program tugas kantor beristirahat dengan bikin program yang lain lagi.
    • Orang yang mendambakan merdeka secara finansial dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
    • Pria yang akan menambah daftar ini dilain waktu.
  • Omong Kosong,  Perspektif

    ICERD, Tetangga dan Kita

    Dalam Bahasa Indonesia, kepanjangan ICERD berarti Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Petikan dalam halaman Wikipedia menyebutkan bahwa konvensi ini mewajibkan anggotanya untuk menghapuskan diskriminasi ras, konvensi ini juga memberikan kewajiban pelarangan penyebaran kebencian dan pengkriminalan keikutsertaan dalam organisasi rasis. Nah konvensi ini yang ditentang tetangga kita dengan alasan bahwa jika mereka meratifikasi konvensi ini maka hak-hak istimewa ras melayu akan terhapuskan dan akan mengusik hukum yang berdasarkan syariah Islam.

    Tetangga dan Kita

    Negara kita, NKRI, sudah meratifikasi ICERD jauh-jauh hari. Karena kita sebagai Bangsa yang memiliki rakyat yang sangat majemuk, telah belajar arti persatuan dari sejarah panjang penderitaan akan penjajahan. Di tahun 1928 kongres pemuda dan pemudi Indonesia telah menyatakan bahwa mereka bukan lagi pemuda-pemudi Sumatra, pemuda-pemudi Jawa atau pemuda-pemudi Ambon, tapi mereka adalah pemuda-pemudi Indonesia. Di tahun 1928 kita sudah mengerti makna persatuan untuk keluar dari penjajahan, persatuan yang tidak lagi memandang Suku, Agama, Ras atau penggolongan-penggolongan lain atas rakyat Indonesia. Persatuan yang dibutuhkan untuk merebut kemerdekaan. Tapi persatuan tidak dibutuhkan oleh tetangga kita, karena mereka tidak (berhasil) merebut kemerdekaan mereka sendiri, karena kemerdekaan mereka diberikan oleh penjajah.

    Memang “beda ladang beda ilalang”, orangtua kita merumuskan peribahasa “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh” karena mengetahui betapa pentingnya arti persatuan, bukan sekadar kalimat yang bagus untuk dibuat meme dan diposting di sosial media. Leluhur kita juga sudah menuliskan kalimat “Bhinneka Tunggal Ika” dalam kakawin Sutasoma yang ditulis sekitar abad XIV dan dijadikan semboyan bangsa kita. Begitu banyaknya kata-kata persatuan dalam kehidupan kebangsaan kita, bahkan sebelum bangsa-bangsa di dunia mengenal ICERD.

    Kita dan Penggolong-golongan

    Sebagai makhluk sosial kita senang berkelompok, itu sudah fitrah manusia, dan kesamaan ide atau pengalaman hidup yang sama (rasa senasib dan sepenanggungan) akan menjadi perekat yang kuat dalam sebuah kelompok. Masyarakat Indonesia tidak lepas dari fitrah itu, tetap saja ada golongan-golongan yang terbentuk. Secara geografis, kita sudah terpecah-pecah, belum lagi kelompok-kelompok kecil yang terbentuk dalam masyarakat, sebutlah golongan orang yang suka kendaraan berpedal 2 dan berpedal 3 yang saling sindir lewat sticker di kaca belakang, atau yang belakangan ini marak: persaingan komentar di dunia maya antara cebong dan kampret. Tapi semua itu tidak melunturkan persatuan dan kesatuan kita sebagai satu Bangsa besar yang kuat.

    Kita dan Syariat Islam

    Agama Islam yang merupakan agama dominan di Indonesia menunjukkan ke-rahmat-annya melalui penganut yang benar-benar toleran. Demi Indonesia, kita rela menghapuskan 7 kata dari Piagam Jakarta yang dijadikan pembukaan UUD 1945 (dan Pancasila). Padahal umat Islam adalah masyarakat yang paling banyak, dan pasti bisa tetap “ngotot” bila ingin 7 kata itu tidak dihapuskan. Tapi kita sadar, penghapusan 7 kata itu tidak menjadikan umat muslim Indonesia kehilangan (berkurang) kadar keimanannya, hukum Islam tetap bisa diadopsi, bahkan saat ini di Nanggroe Aceh Darussalam syariah Islam dilaksanakan dalam keseharian.

    Persatuan, kesetaraan, ICERD tidak membuat kita tidak bisa menjalankan syariat Islam. Bahkan kalau kita coba belajar dari Al-Quran surat Al Hujurat ayat 13, yang menyatakan bahwa di hadapan Allah, orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa, bukan orang dari ras tertentu atau bangsa tertentu atau keturunan tertentu.