• Memori,  Omong Kosong

    Flashback: Semasa SD

    Semasa kecil saya sekolah di SD Negeri 01 Pagi, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara. Kompleks rumah tinggal saya tepat di sebrang pintu gerbang sekolah saya. Jadi saya gak bisa bolos dan main2, pasti ketahuan. Teman semasa SD biasanya lumayan dekat, karena 6 tahun sekolah bersama, biarpun begitu tetap saja teman baik saya hanya sedikit. Ada beberapa orang yang sampai saat ini masih saya ingat (minimal namanya), karena menurut saya bukan pelanggaran privasi, saya sebut saja namanya disini: Hersal Doddy Mulyawan, Andi Riadi, Eko Purnomo. Saya masih ingat beberapa nama lain, tapi karena tidak terlalu akrab, saya tidak sebut disini.

    Ada event yang entah kenapa melekat di kepala saya, suatu hari saat kelas 4 atau kelas 5 (saya lupa tepatnya), pada hari peringatan Isra’ Mi’raj di sekolah saya tidak ada acara yang lumayan besar (biasanya pake panggung di lapangan), cuma seingat saya cuma pakai 2 ruang kelas yang sekatnya dibuka dan pakai pengeras suara. Karena tidak ada ustadz, kalo gak salah yang ceramah itu Ibu Kepala Sekolah.

    Ibu Kepala Sekolah cerita, pada saat dia ke Mekkah, dia sempat mencium batu hitam yang wangi namanya Hajar Aswad. Dan ketika acara selesai, saya beserta dua teman dekat saya: Andi dan Eko (si Dodi gak tau kemana, lupa) ngobrol sambil jalan menuju gerbang sekolah. Saya lupa perkataan persisnya, tapi Andi heran ada batu hitam yang wangi, terus dia ngomong: pokoknya kalo kita udah gede nanti, kalo ada yang ke Mekkah harus liat batu hitam itu, nanti kasih tau ke yang lain kalo batu itu benar2 ada. Sesudah sampai pintu gerbang sekolah, kami bertiga berpisah, Eko ke arah kanan, Andi ke kiri dan saya lurus ke depan.

    Dan entah kenapa, setelah bertahun-tahun berlalu, saya masih ingat janji tiga orang bocah SD itu. Saya gak tau apakah mereka ingat janji yang pernah kami ikrarkan itu. Dan sampai saya menulis blog ini saya belum pernah ke Mekkah, gak tau si Andi atau Eko. Di tahun 2005 entah kenapa saya ingat kejadian itu, yang lalu saya jadikan puisi untuk mengenangnya.

    Ingkar Janji

    semasa kecil kita pernah bermimpi
    ah, kau bilang itu janji
    suatu saat nanti, bersama, kita ke tanah suci
    saksikan bahwa hajar aswad memang hitam
    buktikan bahwa hajar aswad memang wangi

    tapi kau ingkar janji
    kau hadap Illahi tanpa ke tanah suci
    aku tahu kau tanya pada-Nya
    tentang tanah suci dan batunya yang wangi
    dan menyimpan jawab-Nya untukmu sendiri

    :: 27.07.2005 (where are you now?)

    Btw, tadi salah satu nama saya cari di google, dan muncul persis namanya. Ada di daftar relawan Prasan (ada account IG-nya). Saya cari di twitter juga dapet, tapi gak bisa dm. Akhirnya saya dm di IG, gak tau deh dia aktif di IG apa nggak.

  • Memori,  Omong Kosong,  Perspektif

    Iblis Tidak Pernah Mati

    Buku karya Seno Gumira Ajidarma yang sudah lama sekali saya beli (dan baca tentunya), yang awalnya tidak memberikan kesan mendalam selain dari judul bukunya. Ya, judul buku ini langsung melekat di memori saya. Dan terus terang saja, alasan saya membeli buku ini karena judulnya yang bagi saya “ear-catching”.

    Bertahun-tahun berlalu sejak saya selesai baca buku itu, tapi judulnya yang selalu saya ingat. Buku yang hanya satu kali saya baca (ada beberapa buku yang saya baca lebih dari 1x, seperti seri Harry Potter), bahkan saya tidak ingat itu buku isinya apa, ceritanya apa, dan baru saya tau sesudah saya google judul buku itu, yang ternyata sebuah kumpulan cerpen.

    Selain dari judulnya sebenarnya saya ingat satu hal lain, yaitu tentang cerita dari buku itu. Karena saya tidak ingat detailnya, jadi kira2 begini isinya: Iblis tidak akan mati, karena untuk membunuh iblis seseorang harus menjadi iblis yang lebih kuat dari sang iblis yang mau dibunuh, dan sesudah sang iblis mati maka orang yang membunuhnya itulah yang ganti menjadi iblis (yang tentunya lebih kuat dari iblis sebelumnya).

    Sampai sekarang saya gak ngerti kenapa “konsep” keabadian iblis dari Seno Gumira Ajidarma ini melekat di memori saya.

    Dalam kesempatan lain saya nonton di salah satu tv swasta (saya tidak sebut nama stasiun tv-nya karena saya memang lupa), kalo gak salah waktu itu saat pak Amien Rais mencalonkan diri jadi presiden (sebelum pemilu atau sesudah pemilu, saya lupa). Pak Amien bilang (saya lupa detailnya, jadi kata2nya hanya rekaan saya aja): Ada pepatah arab yg bilang bahwa bisa sombong terhadap (dihadapan) orang sombong itu adalah nikmat.

    Nah, dua hal yang sama sekali tidak bertautan, gak ada sangkut-pautnya, nempel di memori saya, dan baru sekitar sebulan yg lalu saya sadar kalau keduanya ternyata punya hubungan. Sadar karena ada dua orang yg saya kenal saling menyombongkan diri, lalu tiba-tiba ada lampu yg nyala di deket kepala saya dan ada tulisannya: “sifat iblis yang terkenal itu adalah sombong”. Iblis tidak mau tunduk kepada nabi Adam, karena dia (iblis) sombong.

    Ada dua skenario yang saya mau sampaikan di tulisan ini:

    1. Sebut saja ABC menyombongkan diri dihadapan XYZ dengan menyebut aku (abc) mempunyai JKL yang lebih dari kamu (xyz). Lalu XYZ berusaha agar mendapatkan JKL yg banyak, dan saat bertemu lagi dengan ABC, dia (xyz) balik menyombongkan diri lagi.
    2. Sebut saja ABC menyombongkan diri dihadapan XYZ bilang aku (abc) punya JKL sekian2, lalu dengan nada biasa (dan cukup merendah) XYZ bilang, biarpun aku (xyz) tidak punya JKL banyak, tapi aku (xyz) bisa begini dan begitu.

    Bagi saya, si XYZ pada skenario kedua itu sombong juga, hanya dia (xyz) menyombongkan sesuatu yang lain (yang bisa disombongkan dihadapan ABC). Dan dua skenario tadi hasilnya sama. Sombong dihadapan orang sombong hanya menambah jumlah orang sombong, karena jika skenario 1 dan 2 dilanjutkan maka si ABC tidak akan hilang sombongnya dan si XYZ yang awalnya (merasa) tidak sombong karena mencicipi nikmatnya sombong dihadapan orang sombong jadi senang mencari orang2 sombong untuk disombongi.

    Ya, sifat iblis yang satu ini bukan hanya tidak bisa mati, tapi malah bisa berkembang biak. Terus apa yang bisa kita lakukan apabila menghadapi orang yang sombong? Kalo saya yg ditanya, saya jawab: SSSSMMDDSTS (senyum simpul sedikit sambil manggut-manggut dan doa supaya tidak sombong). Doanya apa? Ya cari di google dong.

  • Memori,  Omong Kosong,  Programming,  Teknologi

    Ternyata…

    Alkisah, pada jaman dahulu kala, saya pernah kepikiran untuk bikin reporting server, dimana semua report yg direquest akan masuk ke daftar antrian dan akan di eksekusi sesuai prioritas. Di servernya akan ada daftar request dan statusnya. Data yang dihasilkan untuk setiap request report akan disimpan. Tiap report yg dicetak akan ada “signature” atau kode tertentu yang mengarah ke id request report. Itu sekitar tahun 2012.

    Tahun ini baru saya tau kalau ternyata udah ada yang bikin kaya gitu.