• Komputer

    Approaching Zero

    Hampir selesai baca buku Approaching Zero yang saya ambil dari manybooks.net, gratis. Cerita tentang techno-crime, yg dimulai dengan ‘hacking’ sistem telepon (phreaking), lanjut ke virus komputer, lanjut ke computer hacking.

    Buku yang di-publish thn 1993 ini memuat berbagai kejadian besar antara 80an sampai awal 90an (pas thn 1993 bukunya diterbitin). Dari buku itu saya baru tau kalau virus worm ternyata sudah ada dari awal2 perkembangan virus, dan virus Denzuko dari Bandung yang mendunia.

    Karena saya baru mulai kenal komputer thn 1995, jadi gak pernah ketemu sama virus Denzuko. Perkenalan pertama saya dengan virus adalah dengan “Sayha Watpu”, yang akan menampilkan pesan “SW ERROR” dan menampilkan bendera merah putih. Virus ini baru bisa benar2 bersih jika pake anti virus khusus dari majalah Mikrodata, antivirus buatan luar negeri bisa ngedeteksi tapi gak bisa ngebersihin.

    Mungkin karena sudah terbiasa, saya tidak pernah pasang software antivirus yang TSR, tapi saya bisa ngerasa kalo komputer saya diserang virus. Biasanya kalo respon komputer sudah sedikit melambat, saya langsung cek besar file command.com (dulu saya inget banget berapa besarnya, tapi sekarang udah lupa), kalo besarnya berubah baru jalanin antivirus.

    Dulu saya senang ngumpulin virus2 itu, saya koleksi beberapa yang sempat mampir di komputer saya. Saya punya program container khusus untuk virus, yaitu program .com yang cuma nulis kalimat pendek di layar. Kalo program itu kena virus, gampang ngeliat mana program virus dan mana program aslinya.

    Sampai2 saya sempat punya beberapa virus generator (versi DOS) dan satu virus generator buatan Indonesia yang bikin virus macro (saya lupa namanya, tapi logonya laba-laba warna dominannya item). Virus macro ini menginveksi dokumen office.

    Waktu awal2 ada virus brontok, komputer di kantor saya juga kena, tapi karena masih versi awal saya masih bisa ngebersihin manual tanpa bantuan antivirus. Saya juga sempet nangkep virus “KAK”, virusnya cukup unik, karena nyebar lewat email tapi bukan lewat attachment, si virus nempel di script untuk email yg tipenya HTML. Kebetulan outlook express yang saya pake gak pernah saya nyalain opsi html nya, jadi komputer saya selamet, dan virus unik itu saya simpen, tapi sekarang gak tau deh di archive outlook yg mana.

    Waktu heboh2nya virus yg pake “social enginering” untuk nyebar, saya gak pernah sekalipun terserang, karena saya gak pernah ngebuka attachment email dari orang yang saya gak kenal.

    Walaupun saya sendiri tidak pernah bikin virus, tapi saya selalu memantau berita tentang virus komputer. Dan sekarang, komputer di rumah saya gak saya pasangin antivirus karena saya pake Linux Mint Debian Edition, sedang di kantor saya pake Comodo untuk Antivirus dan Firewall.

    Udah ah, kerja dulu.

  • Komputer

    Kalender Weton

    Baru belajar bikin program untuk Android, akhirnya mutusin bikin kalender bulanan. Simple banget, cuma nampilin kalender 1 bulan, bisa ke bulan/tahun berikutnya dan bulan/tahun sebelumnya. Nyoba pengen naro di Play Store ternyata bayar dulu 25 USD, gak jadi deh 😛

    Portrait
    Portrait
    Landscape
    Landscape

    Yang berminat silakan download di 4shared (link menyusul).

  • Komputer,  Omong Kosong

    Bebas

    Membaca tentang Richard Stallman dan Free Software Foundation nya membuat saya sangat kagum, kagum saya terbatas hanya atas cara pandangnya terhadap perangkat lunak (software).

    Untuk tau seperti apa “free” yang dimaksud oleh Richard Stallman silakan lihat sendiri di gnu.org dan bagi yang gak mau repot kesana saya kasih cuplikannya:

    “Free software” means software that respects users’ freedom and community. Roughly, the users have the freedom to run, copy, distribute, study, change and improve the software. With these freedoms, the users (both individually and collectively) control the program and what it does for them.

    When users don’t control the program, the program controls the users. The developer controls the program, and through it controls the users. This nonfree or “proprietary” program is therefore an instrument of unjust power.

    Thus, “free software” is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of “free” as in “free speech,” not as in “free beer”.

    Saya sengaja tidak menerjemahkannya karena saya tidak mau makna yang terkandung di dalamnya berubah/berkurang. Karena terus terang saja, saya tidak “pede” dengan bahasa Inggris saya.

    Walaupun begitu, dari paragraf akhir yang saya petik bisa diambil kesimpulan bahwa “free software” yang dimaksud bukan berarti “perangkat lunak gratis” melainkan “perangkat lunak bebas”.

    “Bebas” disini berarti penggunanya bebas untuk menjalankan, menduplikasi, membagi-bagikan, mempelajari, mengubah dan menjadikan software itu lebih baik lagi.

    Sebuah konsep yang menarik dan sangat saya hargai. Karena terus terang saja, awal-awal saya belajar pemrograman komputer (sekitar tahun 1995) saya banyak dibantu oleh orang lain yang mempublikasikan source-code programnya di majalah Mikrodata (dan kemudian ada juga dari tabloid Komputek).

    Dan sekitar tahun 1997/1998 saat saya mengenal internet, lebih banyak lagi source-code atau sekadar snippet yang saya dapat. Saya bisa belajar karena orang lain mau berbagi. Dan mungkin karena hal itu juga saya tidak pernah sayang untuk memberikan source-code dari program yang saya buat kepada orang yang memintanya.

    Awal saya masuk kampus, saya heran dengan orang yang membanggakan software buatannya tapi tidak mau berbagi source-code nya.

    Akhirnya karena kesal dengan ulah beberapa oknum mahasiswa pelit, saya sengaja menaruh banyak program yang pernah saya buat di salah satu komputer di lab.

    Yang satu ini ada ceritanya sendiri, di lab komputer kampus semua mahasiswa harus login berdasarkan NIM (waktu itu OS nya DOS dan networknya kalo gak salah pake Novell Netware).

    Ada hal yang bikin saya kurang senang di lab, setiap kali praktikum isi folder “home” saya pasti kosong lagi, jadi file2 yang pernah saya copy selalu hilang. Akhirnya saya bikin direktori spesial yang diujung namanya saya tambahkan karakter #255, dan saya isi direktori itu dengan source-code program2 yang pernah saya buat.

    Sesudah saya buat direktori itu ternyata file-file saya tidak hilang lagi, heboh deh lab komputer kampus, ada user yang direktorinya gak bisa dimasukkin dan gak bisa dihapus. Sampai akhirnya penanggung jawab lab yang memang sudah banyak pengalaman memasang file manager untuk mengakses direktori yang saya buat.

    Selanjutnya banyak program2 saya yang disebar dikampus dan beberapa diantaranya jadi bahan tugas akhir teman seangkatan saya.

    Untuk level kampus, saya pede “membebaskan” program2 saya, tapi untuk level yang lebih luas (publish di internet) saya masih belum pede. Semoga saya nanti cukup pede untuk membebaskan semua program yang saya buat.

    Dan saya jadi inget kutipan kata2 di film Revolution OS :

    Think of Richard Stallman as the great philosopher and think of me as the engineer.

    — Linus Torvalds

  • Komputer

    Browser Idaman

    Saya pake Firefox dan Chrome sebagai browser utama, karena browser idaman saya akan tercipta apabila dua browser itu dijadikan satu. Ada feature dari Firefox yg saya anggap bagus tapi gak ada di Chrome, begitupun sebaliknya.

    Firefox

    • Tab Groups
    • Scroller tab header saat banyak tab dibuka (Chrome tab nya jadi kecil2)
    • Repeated table header when printing

    Chrome

    • Search in address bar
    • Application shortcut
    • Incognito window (tanpa menutup regular window)
    • Print preview dialog when print…
    • Install extensions without restart
    • Beautiful UI

    Untuk sekarang baru segitu aja, mungkin nanti nambah…

  • Komputer,  Omong Kosong

    Jauh Di Mata Dekat Di Hati

    Ini bukan tentang kekasih hati, tapi tentang server manga online. Selama ini saya selalu ngambil dari Bacamanga.com, karena setau saya servernya lokal. Dengan metode yang saya pake, saya harus men-download halaman html tiap halaman mangascan, parse htmlnya untuk ngambil link image mangascan, download image nya. Jadi untuk tiap 1 halaman mangascan saya melakukan 2x download.

    Tapi… untuk 1 halaman html di Bacamanga.com saya harus mendownload (rata2) diatas 200KB, terlalu banyak “sampah” yg gak perlu, begitu saya bandingkan dengan Mangafox.me ternyata jauh sekali bedanya, di Mangafox file html nya cuma sekitar 12KB, jadi bisa hemat lebih dari 188KB.

    Mangafox.me, biarpun jauh ternyata bisa lebih cepat untuk di download.

    NB: Data KBBI Daring sudah dimasukkan ke SQLite. Uhuy…