• Filsafat,  Omong Kosong,  Perspektif

    Pertanyaan Paradoks Tentang Tuhan

    Saya sudah beberapa kali membaca dan melihat (di video) ada yang bertanya sebuah pertanyaan paradoks tentang Tuhan. Sifat Tuhan Yang Maha Segalanya memang menuai paradoks dalam akal rasional manusia. Tuhan disebut memiliki sifat Maha Pedih Siksa-Nya, tapi juga Maha Pengasih. Bagaimana mungkin satu entitas memiliki dua sifat yang bertolak belakang sekaligus.

    Salah satu pertanyaan paradoks yang kerap ditanyakan adalah: Tuhan Maha Pencipta dan Maha Kuat, bisakah Tuhan menciptakan benda yang sangat berat, yang saking beratnya tidak bisa diangkat oleh Tuhan itu sendiri.

    Di rekaman video yang ada di youtube, Mbah Nun (Emha Ainun Najib) menjawab bahwa Tuhan tidak bisa dicari eksistensinya melalui akal yang seperti itu, Tuhan bisa didekati dengan cinta, akal manusia tidak bisa menjangkau Allah. Saya paham dengan maksud Cak Nun, bukannya saya meninggikan diri sendiri, tapi orang lain mungkin masih belum nyambung dengan apa yang dibilang Cak Nun.

    Bagi yang belum nyambung, saya coba terangkan dengan bahasa saya tentang pertanyaan paradoks tadi. Ini perspektif saya:

    Pertanyaan paradoks di atas masih terlalu manusia untuk ditanyakan (di-apply) terhadap Tuhan, bagi Tuhan pertanyaan itu ‘gak level’.

    Saat segala sesuatu tidak ada, Tuhan ada. Saat Tuhan menciptakan alam semesta, Dia menciptakan 2 dimensi: dimensi ruang dan dimensi waktu, tempat dimana manusia berada (hidup). Pertanyaan paradoks di atas bisa ditanyakan apabila Tuhan berada di dalam dimensi ruang. Tapi Tuhan berada di luar dimensi yang Dia ciptakan untuk makhluk-Nya, karena diluar dimensi ruang dan waktu maka Dia bisa berada di mana saja dan kapan saja.

    Jadi yang masih mempersoalkan pertanyaan paradoks di atas, alam pikirannya masih belum luas, masih terbatas dimensi ruang.

    Kalau masih bingung, terus terang saya juga jadi bingung, karena saya gak punya bahasa yang lebih sederhana lagi dari keterangan saya yang di atas untuk menjelaskan betapa “kerdil”-nya pertanyaan paradoks tentang Tuhan itu.