Omong Kosong

Perspektif

Dalam beberapa bencana terakhir yang menimpa Indonesia, ada kelompok masyarakat yang menyuarakan pendapat dalam situs berita (karena saya hampir tidak ber-media sosial, jadi informasi tanggapan masyarakat saya dapat dari komentar di situs berita nasional) yang seolah-olah menyalahkan para korban atas bencana yang mereka alami, yang jadi persoalan adalah, bencana yang terjadi adalah bencana alam.

Saya tau, dalam Al Qur’an ada riwayat tentang umat Nabi-Nabi terdahulu yang ditimpakan bencana oleh Allah. Sebut saja bencana banjir besar pada zaman Nabi Nuh yang diakui bukan hanya oleh umat Muslim. Saya yakin dan percaya 100% bahwa Allah pernah menghukum umat manusia dengan menimpakan bencana alam.

Dan sekarang ada sekelompok manusia yang menghakimi (meng-klaim) bahwa bencana alam yang terjadi di Lombok dan Palu adalah hukuman dari Allah atas dosa-dosa yang masyarakat Lombok dan Palu lakukan di dunia. Membaca komentar mereka,  terus terang saya kaget terus langsung terucap dalam hati: kalau mau mengikuti logika mereka, mengapa di negeri-negeri yang mayoritasnya bukan muslim tidak terjadi bencana, padahal disana “pusat”nya maksiat dan dosa.

Ternyata ada pembaca lain yang berpikiran sama dengan saya dan mengutarakan persis seperti apa yang saya pikirkan, dalam komentar berita terkait, yang lalu dijawab oleh para “hakim”: karena kebaikan mereka di dunia dibalas di dunia, dan dosa-dosa mereka baru akan dibalas di akhirat. Saat membaca komentar balasan ini saya nepok jidat sambil ngomong: “aduh” (yg ini bukan cuma dalam hati).

Dan kelompok para “hakim” ini ternyata bukan cuma berkomentar di situs berita atau menyebar opini lewat media sosial, mereka bahkan berani “menyerang” persiapan acara kebudayaan dengan dalih apa yang akan diselenggarakan adalah musyrik, dosa paling tinggi sejagad.

Coba kita geser perspektif, kalau saja kita yang manusia, yang menghakimi bahwa bencana alam tersebut adalah azab, ternyata salah (toh manusia itu tempatnya salah dan lupa). Itu bukan azab melainkan cobaan dari Allah, yang jika para korban tetap tabah dan tawwakal Insya Allah dosa-dosanya digugurkan satu-persatu. Mereka mendapat bencana untuk menebus kesalahan mereka di dunia, dan dosa para manusia yang menghakimi manusia lain dibalas oleh Allah di akhirat nanti. Ini dia yang bikin saya nepok jidat tadi.

Cobalah untuk berempati, coba berfikir dalam konteks si korban bencana alam. Kalau kita sebagai korban di daerah, terus ada orang dari tempat yang memang aman bencana alam bilang: lu yang salah sih, coba jangan maksiat terus, ibadah yang bener biar gak di-azab sama Allah. Kira-kira kalau kita sebagai korban, sakit hati gak yah? Coba yang menjadi para “hakim” itu ngomong langsung di tempat bencana, kira-kira yang ngomong dikeroyok massa gak yah?

Sebagai manusia, berhentilah memainkan peran Tuhan, berhenti menjadi Tuhan atas manusia lain, bukankah menghakimi dosa makhluk terhadap Khalik adalah hak Sang Khalik dan melanggar itu merupakan syirik terbesar karena secara esensi berarti menuhankan diri sendiri (menganggap diri sendiri sebagai Tuhan karena sudah memposisikan diri sendiri sebagai Tuhan bagi makhluk lain).

Memvonis sebuah bencana alam sebagai azab adalah mutlak hak Allah karena memang cuma Dia saja yang tahu apakah sebuah bencana itu sebagai azab atau bukan. Apa kalau saat ini Anda mati, Anda yakin 100% akan masuk surga? Tidak ada yang pasti, karena hanya Allah yang paling tahu. Dan tidak ada yang bisa menjamin, kecuali nama-nama orang yang pernah disebut oleh Rasulullah sebagai penghuni surga (berdasarkan wahyu dari Allah), tidak ada yang bisa memastikan seseorang itu masuk surga atau tidak.

Lebih baik merasa diri hina karena punya dosa melebihi gunung dan meratap minta ampun daripada merasa ibadah sudah paling benar dan pasti masuk surga. Sebagaimana lebih baik merasa bodoh dan menimba ilmu terus menerus daripada menganggap diri pintar dan berhenti belajar.