Memori,  Omong Kosong,  Perspektif

Iblis Tidak Pernah Mati

Buku karya Seno Gumira Ajidarma yang sudah lama sekali saya beli (dan baca tentunya), yang awalnya tidak memberikan kesan mendalam selain dari judul bukunya. Ya, judul buku ini langsung melekat di memori saya. Dan terus terang saja, alasan saya membeli buku ini karena judulnya yang bagi saya “ear-catching”.

Bertahun-tahun berlalu sejak saya selesai baca buku itu, tapi judulnya yang selalu saya ingat. Buku yang hanya satu kali saya baca (ada beberapa buku yang saya baca lebih dari 1x, seperti seri Harry Potter), bahkan saya tidak ingat itu buku isinya apa, ceritanya apa, dan baru saya tau sesudah saya google judul buku itu, yang ternyata sebuah kumpulan cerpen.

Selain dari judulnya sebenarnya saya ingat satu hal lain, yaitu tentang cerita dari buku itu. Karena saya tidak ingat detailnya, jadi kira2 begini isinya: Iblis tidak akan mati, karena untuk membunuh iblis seseorang harus menjadi iblis yang lebih kuat dari sang iblis yang mau dibunuh, dan sesudah sang iblis mati maka orang yang membunuhnya itulah yang ganti menjadi iblis (yang tentunya lebih kuat dari iblis sebelumnya).

Sampai sekarang saya gak ngerti kenapa “konsep” keabadian iblis dari Seno Gumira Ajidarma ini melekat di memori saya.

Dalam kesempatan lain saya nonton di salah satu tv swasta (saya tidak sebut nama stasiun tv-nya karena saya memang lupa), kalo gak salah waktu itu saat pak Amien Rais mencalonkan diri jadi presiden (sebelum pemilu atau sesudah pemilu, saya lupa). Pak Amien bilang (saya lupa detailnya, jadi kata2nya hanya rekaan saya aja): Ada pepatah arab yg bilang bahwa bisa sombong terhadap (dihadapan) orang sombong itu adalah nikmat.

Nah, dua hal yang sama sekali tidak bertautan, gak ada sangkut-pautnya, nempel di memori saya, dan baru sekitar sebulan yg lalu saya sadar kalau keduanya ternyata punya hubungan. Sadar karena ada dua orang yg saya kenal saling menyombongkan diri, lalu tiba-tiba ada lampu yg nyala di deket kepala saya dan ada tulisannya: “sifat iblis yang terkenal itu adalah sombong”. Iblis tidak mau tunduk kepada nabi Adam, karena dia (iblis) sombong.

Ada dua skenario yang saya mau sampaikan di tulisan ini:

  1. Sebut saja ABC menyombongkan diri dihadapan XYZ dengan menyebut aku (abc) mempunyai JKL yang lebih dari kamu (xyz). Lalu XYZ berusaha agar mendapatkan JKL yg banyak, dan saat bertemu lagi dengan ABC, dia (xyz) balik menyombongkan diri lagi.
  2. Sebut saja ABC menyombongkan diri dihadapan XYZ bilang aku (abc) punya JKL sekian2, lalu dengan nada biasa (dan cukup merendah) XYZ bilang, biarpun aku (xyz) tidak punya JKL banyak, tapi aku (xyz) bisa begini dan begitu.

Bagi saya, si XYZ pada skenario kedua itu sombong juga, hanya dia (xyz) menyombongkan sesuatu yang lain (yang bisa disombongkan dihadapan ABC). Dan dua skenario tadi hasilnya sama. Sombong dihadapan orang sombong hanya menambah jumlah orang sombong, karena jika skenario 1 dan 2 dilanjutkan maka si ABC tidak akan hilang sombongnya dan si XYZ yang awalnya (merasa) tidak sombong karena mencicipi nikmatnya sombong dihadapan orang sombong jadi senang mencari orang2 sombong untuk disombongi.

Ya, sifat iblis yang satu ini bukan hanya tidak bisa mati, tapi malah bisa berkembang biak. Terus apa yang bisa kita lakukan apabila menghadapi orang yang sombong? Kalo saya yg ditanya, saya jawab: SSSSMMDDSTS (senyum simpul sedikit sambil manggut-manggut dan doa supaya tidak sombong). Doanya apa? Ya cari di google dong.