Omong Kosong

Berbohong Untuk Kebaikan

Banyak orang bilang bahwa berbohong demi kebaikan bisa dibenarkan (yang saya bicarakan adalah kebohongan individu terhadap individu lain). Tapi kenapa saya tidak bisa menerima hal seperti itu, berbohong tetap berbohong apapun tujuannya. Bukankah ini yang dinamakan ‘mencampuradukkan antara yang haq dengan yang bathil’. Selaras dengan pendapat dari guru SMA saya (ada di “Selemah-lemahnya Perbuatan Baik”) perbuatan baik tidak boleh dikotori oleh sesuatu yang buruk.

Tapi ada saja hal2 yang membuat saya bisa maklumi kebohongan, yaitu jika sebuah kebenaran bisa memperburuk kesehatan (fisik/jiwa) seseorang, maka bisa saja sebuah kebenaran tidak disampaikan (disampaikan dilain waktu). Atau bisa juga jika sebuah berita bisa mempengaruhi ketenangan publik (akan ada chaos jika sebuah berita diwartakan).

Ini membuka masalah subjektifitas. Contoh: bagaimana jika seseorang (sekelompok orang) percaya dan meyakini bahwa dia (mereka) berbohong demi ketenangan publik, tapi bagi pandangan orang lain (sekelompok orang lainnya) menyatakan bahwa kebohongan itu tidak perlu karena walaupun diberitakan yang sebenarnya, publik tidak akan chaos. Siapa yang salah dan siapa yang benar tidak akan ada yang tau.

Saya membuat post ini karena ada orang yang saya kenal baik (yang saya tahu pengetahuan agamanya lebih dari saya), sering berkata bohong. Walaupun saya tahu bahwa tujuannya untuk mengajarkan kebaikan, tapi saya nilai caranya salah. Mungkin teman saya itu berpikir bahwa cara yang dia pakai itu adalah cara terbaik, tapi menurut pandangan saya “mengajarkan kebaikan kepada orang lain” melalui kebohongan adalah salah.

Orang2 disekitarnya sudah ada yang menasehati, tapi karena yang “menasehati” dianggap anak kemaren sore (teman, adik, ponakan, dan “murid“) maka tidak ada satupun yang didengar dan tetap melanjutkan berbohong dan berbohong.

Udah ah.