Komputer,  Omong Kosong

Bebas

Membaca tentang Richard Stallman dan Free Software Foundation nya membuat saya sangat kagum, kagum saya terbatas hanya atas cara pandangnya terhadap perangkat lunak (software).

Untuk tau seperti apa “free” yang dimaksud oleh Richard Stallman silakan lihat sendiri di gnu.org dan bagi yang gak mau repot kesana saya kasih cuplikannya:

“Free software” means software that respects users’ freedom and community. Roughly, the users have the freedom to run, copy, distribute, study, change and improve the software. With these freedoms, the users (both individually and collectively) control the program and what it does for them.

When users don’t control the program, the program controls the users. The developer controls the program, and through it controls the users. This nonfree or “proprietary” program is therefore an instrument of unjust power.

Thus, “free software” is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of “free” as in “free speech,” not as in “free beer”.

Saya sengaja tidak menerjemahkannya karena saya tidak mau makna yang terkandung di dalamnya berubah/berkurang. Karena terus terang saja, saya tidak “pede” dengan bahasa Inggris saya.

Walaupun begitu, dari paragraf akhir yang saya petik bisa diambil kesimpulan bahwa “free software” yang dimaksud bukan berarti “perangkat lunak gratis” melainkan “perangkat lunak bebas”.

“Bebas” disini berarti penggunanya bebas untuk menjalankan, menduplikasi, membagi-bagikan, mempelajari, mengubah dan menjadikan software itu lebih baik lagi.

Sebuah konsep yang menarik dan sangat saya hargai. Karena terus terang saja, awal-awal saya belajar pemrograman komputer (sekitar tahun 1995) saya banyak dibantu oleh orang lain yang mempublikasikan source-code programnya di majalah Mikrodata (dan kemudian ada juga dari tabloid Komputek).

Dan sekitar tahun 1997/1998 saat saya mengenal internet, lebih banyak lagi source-code atau sekadar snippet yang saya dapat. Saya bisa belajar karena orang lain mau berbagi. Dan mungkin karena hal itu juga saya tidak pernah sayang untuk memberikan source-code dari program yang saya buat kepada orang yang memintanya.

Awal saya masuk kampus, saya heran dengan orang yang membanggakan software buatannya tapi tidak mau berbagi source-code nya.

Akhirnya karena kesal dengan ulah beberapa oknum mahasiswa pelit, saya sengaja menaruh banyak program yang pernah saya buat di salah satu komputer di lab.

Yang satu ini ada ceritanya sendiri, di lab komputer kampus semua mahasiswa harus login berdasarkan NIM (waktu itu OS nya DOS dan networknya kalo gak salah pake Novell Netware).

Ada hal yang bikin saya kurang senang di lab, setiap kali praktikum isi folder “home” saya pasti kosong lagi, jadi file2 yang pernah saya copy selalu hilang. Akhirnya saya bikin direktori spesial yang diujung namanya saya tambahkan karakter #255, dan saya isi direktori itu dengan source-code program2 yang pernah saya buat.

Sesudah saya buat direktori itu ternyata file-file saya tidak hilang lagi, heboh deh lab komputer kampus, ada user yang direktorinya gak bisa dimasukkin dan gak bisa dihapus. Sampai akhirnya penanggung jawab lab yang memang sudah banyak pengalaman memasang file manager untuk mengakses direktori yang saya buat.

Selanjutnya banyak program2 saya yang disebar dikampus dan beberapa diantaranya jadi bahan tugas akhir teman seangkatan saya.

Untuk level kampus, saya pede “membebaskan” program2 saya, tapi untuk level yang lebih luas (publish di internet) saya masih belum pede. Semoga saya nanti cukup pede untuk membebaskan semua program yang saya buat.

Dan saya jadi inget kutipan kata2 di film Revolution OS :

Think of Richard Stallman as the great philosopher and think of me as the engineer.

— Linus Torvalds