Omong Kosong,  Teknologi

SARA

Setau saya, SARA itu singkatan dari ‘Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan’. Untuk Suku, Agama dan Ras itu jelas pemisahnya, di forum2 di internet, saya hindari pembicaraan yang menyinggung tiga hal itu. Atribut Suku dan Ras sudah tersemat saat kita lahir, Agama tergantung dorongan hati.

Saya susah terhindar dari polemik Antar-golongan, karena kita hidup di dunia yang terkotak-kotak dan sekarang ini begitu mudahnya membuat kotak kita sendiri yang menyebabkan semua orang diluar kotak kita adalah golongan lain. Kotak2 yang kita buat itu sebenarnya tidak perlu ada selama kita saling mengerti bahwa pilihan yang kita ambil itu subjektif dan secara sadar menerima apabila ada orang lain yang menjatuhkan pilihan beda.

Kotak2 antar-golongan dengan mudah kita buat berdasarkan hal-hal sepele yang sebenarnya tidak berarti. Watak dari manusia yang senang dipuji dan diagungkan mungkin jadi penyebab utama pengkotak-kotakan yang terjadi, kita jadi merasa bangga dan “tinggi” apabila pilihan yang kita jatuhkan dianggap benar dan diikuti oleh orang lain, maka jadilah kotak eksklusif itu. Padahal kalau dipikir-pikir (gak usah dalem2 banget) semua itu kosong, tidak ada artinya.

Yang baca tulisan ini mungkin bingung, maksud dan tujuan dari tulisan saya ini. Langsung ke pokok nya saja ya.

Saya masih bisa mengerti apabila dalam kompetisi sepak bola antar negara ada supporter yang saling ejek, saya anggap itu masih membawa harga diri bangsa kita. Tapi apa yang saya lihat adalah saling ejek antar pengguna gadget, yang diejek dan dijelek2an adalah perusahaan pembuat smartphone, yang saling mengejek adalah konsumen dari dua perusahaan itu.

Langsung saya sebut aja, yang satu Apple, yang satu Samsung. Samsung dianggap mewakili ketenaran OS Android besutan Google dan mungkin karena heboh tuntutan hukum Apple terhadap Samsung hal ini jadi mengemuka.

Saya pribadi lebih suka Android dibandingkan iOS karena terus terang saja saya merasa lebih bebas menggunakan perangkat Android dibandingkan perangkat yang memakai iOS.

Walaupun sebenarnya saya mengharapkan bahwa nantinya smartphone lebih seperti komputer (yang ini nanti bisa dibahas lebih lanjut). Saya cukup puas dengan Android, dan saya pikir Android adalah gerbang awal menuju mimpi yang saya harapkan.

Tapi saya tidak pernah merendahkan (menganggap rendah) orang yang memiliki kenyamanan berbeda dengan saya dalam hal memilih smartphone. Orang2 yang memilih iPhone/BlackBerry tidak serta merta lebih buruk seleranya dari saya, karena saya paham benar untuk menentukan pilihan itu alasannya benar2 subjektif.

“Perang” pengguna smartphone di dunia maya (liat saja detik inet) tidak perlu terjadi apalagi yang dibela “mati2an” adalah perusahaan asing, kalau saja salah satunya perusahaan Indonesia saya masih bisa maklum karena ada rasa memiliki sebagai rakyat Indonesia, tapi kalau yang dibela perusahaan dari Korea atau Amerika saya memilih tidak ikut campur, biar saja mereka (kedua perusahaan itu) yang “perang”.

Tapi yang namanya manusia tetap saja manusia, sikap “aku harus menang” tetap yang terdepan.