• Omong Kosong,  Perspektif

    ICERD, Tetangga dan Kita

    Dalam Bahasa Indonesia, kepanjangan ICERD berarti Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Petikan dalam halaman Wikipedia menyebutkan bahwa konvensi ini mewajibkan anggotanya untuk menghapuskan diskriminasi ras, konvensi ini juga memberikan kewajiban pelarangan penyebaran kebencian dan pengkriminalan keikutsertaan dalam organisasi rasis. Nah konvensi ini yang ditentang tetangga kita dengan alasan bahwa jika mereka meratifikasi konvensi ini maka hak-hak istimewa ras melayu akan terhapuskan dan akan mengusik hukum yang berdasarkan syariah Islam.

    Tetangga dan Kita

    Negara kita, NKRI, sudah meratifikasi ICERD jauh-jauh hari. Karena kita sebagai Bangsa yang memiliki rakyat yang sangat majemuk, telah belajar arti persatuan dari sejarah panjang penderitaan akan penjajahan. Di tahun 1928 kongres pemuda dan pemudi Indonesia telah menyatakan bahwa mereka bukan lagi pemuda-pemudi Sumatra, pemuda-pemudi Jawa atau pemuda-pemudi Ambon, tapi mereka adalah pemuda-pemudi Indonesia. Di tahun 1928 kita sudah mengerti makna persatuan untuk keluar dari penjajahan, persatuan yang tidak lagi memandang Suku, Agama, Ras atau penggolongan-penggolongan lain atas rakyat Indonesia. Persatuan yang dibutuhkan untuk merebut kemerdekaan. Tapi persatuan tidak dibutuhkan oleh tetangga kita, karena mereka tidak (berhasil) merebut kemerdekaan mereka sendiri, karena kemerdekaan mereka diberikan oleh penjajah.

    Memang “beda ladang beda ilalang”, orangtua kita merumuskan peribahasa “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh” karena mengetahui betapa pentingnya arti persatuan, bukan sekadar kalimat yang bagus untuk dibuat meme dan diposting di sosial media. Leluhur kita juga sudah menuliskan kalimat “Bhinneka Tunggal Ika” dalam kakawin Sutasoma yang ditulis sekitar abad XIV dan dijadikan semboyan bangsa kita. Begitu banyaknya kata-kata persatuan dalam kehidupan kebangsaan kita, bahkan sebelum bangsa-bangsa di dunia mengenal ICERD.

    Kita dan Penggolong-golongan

    Sebagai makhluk sosial kita senang berkelompok, itu sudah fitrah manusia, dan kesamaan ide atau pengalaman hidup yang sama (rasa senasib dan sepenanggungan) akan menjadi perekat yang kuat dalam sebuah kelompok. Masyarakat Indonesia tidak lepas dari fitrah itu, tetap saja ada golongan-golongan yang terbentuk. Secara geografis, kita sudah terpecah-pecah, belum lagi kelompok-kelompok kecil yang terbentuk dalam masyarakat, sebutlah golongan orang yang suka kendaraan berpedal 2 dan berpedal 3 yang saling sindir lewat sticker di kaca belakang, atau yang belakangan ini marak: persaingan komentar di dunia maya antara cebong dan kampret. Tapi semua itu tidak melunturkan persatuan dan kesatuan kita sebagai satu Bangsa besar yang kuat.

    Kita dan Syariat Islam

    Agama Islam yang merupakan agama dominan di Indonesia menunjukkan ke-rahmat-annya melalui penganut yang benar-benar toleran. Demi Indonesia, kita rela menghapuskan 7 kata dari Piagam Jakarta yang dijadikan pembukaan UUD 1945 (dan Pancasila). Padahal umat Islam adalah masyarakat yang paling banyak, dan pasti bisa tetap “ngotot” bila ingin 7 kata itu tidak dihapuskan. Tapi kita sadar, penghapusan 7 kata itu tidak menjadikan umat muslim Indonesia kehilangan (berkurang) kadar keimanannya, hukum Islam tetap bisa diadopsi, bahkan saat ini di Nanggroe Aceh Darussalam syariah Islam dilaksanakan dalam keseharian.

    Persatuan, kesetaraan, ICERD tidak membuat kita tidak bisa menjalankan syariat Islam. Bahkan kalau kita coba belajar dari Al-Quran surat Al Hujurat ayat 13, yang menyatakan bahwa di hadapan Allah, orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa, bukan orang dari ras tertentu atau bangsa tertentu atau keturunan tertentu.

  • Omong Kosong

    Update Status

    Udah beberapa lama ini gak pernah nulis di blog manapun, banyak kejadian, saking sibuknya jadi gak sempet nulis apa-apa.

    • NoteJS udah semakin matang. Udah jadi PWA, ada feature lock, bisa eksport (download jadi file text terenkrip) dan import (buka file terenkrip dari komputer lokal). Semua data ada di komputer client, gak ada data yang dikirim ke server dan NoteJS tidak menyimpan password.
    • Game 2048 udah gak menarik lagi, begitu nemu patternnya udah gak ada tantangan lagi.
    • Temang.ga udah pindah hosting selamanya. Lagi di organisir ulang, pastinya hosting gratisan banyak bedanya sama yg berbayar.
    • Dapet komputer i7 dari kantor (dipinjemin bukan jadi hak milik), emang MPC keren banget dah.
    • Udah lama gak baca komik.
    • Berita politik gak ada yang bagus, semua cuma bahasan dangkal dari aksi para politikus.
    • Saya tambah gemuk karena sekarang istri lagi rajin eksperimen bikin puding.

    Udah ah.

  • Hosting,  Omong Kosong

    Terjebak Bahasa Marketing

    Dulu saya selalu hati-hati dalam mendengarkan orang berbicara, atau membaca sebuah pernyataan tertulis. Beberapa tahun lalu, saya dan Istri merasa “terjebak” oleh iklan (di spanduk) penjual mobil. Di spanduk yang dibentang ditulis: “DP 5 Juta, Cicilan 2,5jt”, saya dan istri langsung tertarik dan ketika bertanya pada marketingnya baru tau kalau bayar uang muka 5 juta maka cicilannya lebih dari 7jt per bulan (saya lupa nilai pastinya) dan kalau mau cicilan 2,5jt per bulan maka uang muka yang dibayarkan lebih dari 70jt (lupa juga pastinya berapa).

    Sejak saat itu saya lebih berhati-hati dalam membaca iklan apapun termasuk iklan penjualan rumah sampai iklan jual blender di toko dekat rumah. Tapi orang tua kita pernah membuat peribahasa: sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Dan hal itu juga yang terjadi pada saya, lagi-lagi saya merasa “tertipu” oleh iklan. Sebelum saya jabarkan, saya konfirmasi dulu yah, yang saya bilang merasa “tertipu” (perhatikan tanda petiknya) bukan berarti ada pihak yang menipu saya, tetapi asumsi saya waktu baca iklannya itulah yang salah.

    Saya “tertipu” oleh iklan hosting dari hostinger yang bilang diskon gede2an (sampe 90% lebih) makanya saya beli itu sedjat1.zz.mu dan semua program dan domain yang saya punya saya pakai untuk yang di hostinger itu karena satu bulan cuma 8ribu rupiah, bayar untuk 3 bulan cuma 24ribu. Tapi ternyata (dan ini kesalahan saya) harga diskon tidak berlaku seterusnya, begitu saya mau perpanjang (hostingnya habis di awal Januari 2019) saya heran kenapa yang akan ditagih ke saya lebih dari 100ribu. Begitu saya baca lebih cermat, ternyata jumlah persentase diskonnya berubah, dan saat itulah saya ‘tepok jidat‘ baru sadar kalau saya kena “tipu” bahasa marketing. Namanya juga diskon, bisa berubah sewaktu-waktu, bahkan bisa jadi pada suatu saat nanti, diskonnya tidak ada lagi alias full charge.

    Hosting bukan merupakan kebutuhan utama saya, selama saya bisa ambil yang gratisan, kenapa harus bayar? Waktu itu saya tertarik karena memang harganya murah banget tapi bukan berarti saya mau menghabiskan dana 97ribu per bulan untuk hosting sebuah domain, apalagi masih bisa naik lagi kalau diskonnya diturunkan/dihapuskan.

    Tapi karena terlanjur bikin aplikasi PWA, akhirnya saya coba cari lagi hosting lain yang gratis + SSL, dan ternyata ada, tinggal cari di google pake keyword “free hosting with ssl” saya dapet informasi beberapa free hosting yang menyediakan free ssl dari Letsencrypt dari quora.com Dan setelah baca-baca akhirnya pilihan jatuh pada PlanetHoster.com akhirnya semua yang di hostinger saya pindah ke planethoster. Btw, setup ssl gratisnya cukup 1x klik. Mantap.

  • Hiburan,  Software

    2048

    2048 bukan ramalan tahun berapa Indonesia jaya (atau bubar), bukan juga cerita fiksi (ilmiah maupun tidak). Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Indonesia, ini adalah permainan yang bikin ketagihan. Berawal dari nyari informasi tentang PWA, eh malah dapet 2048game.com.

  • Berita,  Diskusi

    Diskusi Sehat di Republika.co.id

    Awalnya lagi baca-baca berita di detik.com, terus karena beritanya udah abis dibaca, saya coba cari tempat berita lain. Langganan saya selain detik.com adalah republika.co.id. Di sebelah kiri, ada panel “Terpopuler” yang paling atas langsung saya klik dan muncullah berita tentang Abu Janda yang dilaporkan ke polisi. Karena ini sebenarnya terkait dengan kasus pembakaran bendera bertuliskan lafadz tauhid maka saya mulai diskusi dengan para pembaca republika.co.id dengan menanyakan tentang bendera.

    Untuk memulai sebuah diskusi perlu ada pemahaman mendasar yang bisa disepakati bersama, makanya saya awal-awal menanyakan kesakralan kalimat lafadz tauhid yang ada disebuah bendera.

    Awalnya saya pikir akan jadi diskusi penuh caci-maki seperti kebanyakan “diskusi” pada portal berita lain, tapi ternyata pembaca republika.co.id lebih beradab dan tidak mengutamakan emosi (karena saya juga gak mau mancing2 emosi).

    Nah, biar bisa diskusi lebih baik, akhirnya saya memutuskan untuk mendokumentasikan diskusi singkat saya yang belum selesai di sini. Komentar dari account facebook yang saya tutup adalah komentar saya, sengaja saya tutup karena itu account facebook istri.