• Filsafat,  Omong Kosong,  Opini,  Perspektif

    Out of This World

    Beberapa minggu terakhir istri saya senang banget nonton youtube, ada 1 channel yang dia suka tonton: Gus Samsudin. Dia seneng banget saat Gus Samsudin beraksi men-dhohirkan yg gaib, atau sewaktu dia adu tenaga dalam melawan banyak orang sekaligus.

    Tapi yang menarik perhatian saya justru hal yg lain, bukan aksi Gus Samsudin mengobati pasien, yang saya perhatikan justru keterangannya tentang Nur Muhammad. Saya ingat saat pertama kali saya dengar kata-kata “Nur Muhammad” waktu nonton video Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib).

    Saya penasaran, apa sih “Nur Muhammad”? Dan seperti semua orang, kalau saya penasaran saya pasti buka Google. Hasil penelusuran google membawa saya ke artikel tentang Nur Muhammad yang ditulis oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, seorang yang (menurut saya) apabila memberikan keterangan tidak memihak dan tidak menghakimi.

    Secara umum istilah-istilah itu berarti makhluk Allah yang paling tinggi, mulia, paling pertama dan utama. Seluruh makhluk berasal dan melalui dirinya. Itulah sebabnya Nur Muhammad pun disebut al-haq al-makhluq bih atau al-syajarah al-baidha’ karena seluruh makhluk memancar darinya.

    https://republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/03/20/m16m7j-apa-itu-nur-muhammad-1

    Sebelum Allah menciptakan yang lain, terlebih dahulu Ia menciptakan nur nabimu (Nur Muhammad). Waktu itu belum ada lauh al-mahfuz, pena (qalam), neraka, malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, bintang, jin, dan manusia.

    https://republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/03/21/m18eno-apa-itu-nur-muhammad-2

    Sesudah saya baca, otomatis saya teringat keterangan seseorang tentang Atman (Atma) dalam agama Hindu. Dan karena pengetahuan saya amat minim tentang Kejawen, saya tidak tahu padanannya. Jangankan padanan Atman, tentang yg mana ajaran Kejawen saja saya tidak tahu persis karena banyak yang bercampur, apalagi sesudah “Islamisasi” Kejawen oleh Sunan Kalijaga, jadi ada banyak versi Kejawen.

    Saya kenal banyak orang muslim yang “mengharamkan” ilmu-ilmu yang menyangkut hal-hal gaib (ilmu kebatinan) karena menurut mereka hal-hal seperti itu selalu meminta bantuan kepada jin. Tapi ada salah satu praktisi ilmu kebatinan yang bilang kepada saya untuk mencari ayat dalam Al Quran yang bercerita tentang Nabi Sulaiman. Teringat kata-kata orang itu, saya cari lagi di google dan ketemu surat An-Naml (27) ayat 38-40. Saya kutip terjemahannya:

    Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri?” (38)

    ‘Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya.” (39)

    Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.” (40)

    Al Quran Surat An-Naml (27) Ayat 38-40

    Saya tidak memiliki ilmu yang cukup untuk menafsirkan Al Quran, tapi setidaknya untuk ayat-ayat yang berisi kisah para Nabi terdahulu tidak terlalu banyak yg bisa ditafsirkan, dan dari terjemahan Kementrian Agama RI sudah cukup jelas bahwa saat Nabi Sulaiman bertanya siapa yang sanggup memindahkan singgasana Ratu Balqis sebelum Ratu itu sampai di Istana Nabi Sulaiman, yang pertama menjawab adalah jin ‘Ifrit yang katanya bisa memindahkan sebelum Nabi Sulaiman berdiri, tapi kemudian ada “seorang yang mempunyai ilmu dari kitab” yang bisa membawa singgasana hanya sekedipan mata.

    Siapa “seorang” itu? Yang pasti dia dari golongan manusia, yang juga berarti bahwa ada manusia yang sanggup (diberikan anugerah oleh Allah) melakukan hal-hal yang bahkan jin ‘Ifrit tidak sanggup melakukannya. Jadi tidak semua ilmu kebatinan itu menggunakan bantuan golongan jin, seperti yang disangkakan oleh banyak orang. Dan yang lebih penting lagi adalah kata-kata Nabi Sulaiman sesudah itu, bahwa semua itu adalah karunia dari Allah sekaligus ujian apakah kita akan bersyukur atau ingkar atas nikmat dari-Nya.

    Lalu apa itu “ilmu dari kitab”? Sudah banyak ahli tafsir yang menafsirkannya, jadi silakan google sendiri. Jadi, bagi saya pribadi, saya tidak akan menghakimi para praktisi ilmu kebatinan, saya tidak akan sok tahu untuk hal-hal yang saya tidak tahu (misalnya tentang ilmu kebatinan). Yang saya bisa hanya menilai luarnya saja, apakah perbuatannya itu positif atau negatif. Ilmu hanya alat, tidak ada yang baik dan buruk, perbuatan manusia atas ilmu itulah yang menentukan baik atau buruknya.

    Dan walaupun saya tidak tau kedua nama “udin” yang saya sebut di atas masuk ke golongan “udin sedunia” yang mana, saya yakin dan percaya keduanya termasuk orang baik.

  • Komputer,  Omong Kosong,  Software,  Teknologi

    WFH + Social Distancing

    Sejak tanggal 16 Maret 2020 saya dan teman2 sekantor “dirumahkan” (baca: kerja dari rumah). Untung aja udah dari sebelum adanya wabah di kantor udah disiapin untuk akses server kantor lewat VPN, jadi begitu ada anjuran social distancing kantor saya cukup nyebar info lewat WAG untuk melakukan pekerjaan dari rumah, gak ada persiapan tambahan kecuali penambahan user VPN aja.

    Bagi saya pribadi, WFH dan social distancing tidak merubah banyak keseharian saya, karena tanpa ada wabahpun biasanya saya sudah gak bersosialisasi. Saya lebih suka membahas dunia teknologi informasi dari sisi teknis, dan saya jarang banget ketemu sama orang yg mirip sama saya. Jadi sehari-hari, secara sosial saya memang sudah berjarak.

    Di rumah, selain ngerjain tugas kantor, ikut beres2 rumah, ikut mengurusi kucing2 peliharaan Istri, saya juga ngoprek2 komputer2 yang ada di rumah. Kebetulan di rumah sekarang ada:

    • Notebook kantor (Windows 10, Lenovo Intel i7 RAM 8GB)
    • Notebook pribadi (Parrot Linux, Acer Intel i5 RAM 4GB)
    • Raspberry Pi 4 B (Raspbian, RAM 2GB)
    • Orange Pi Lite (Armbian Buster, RAM 512MB)

    Karena yg i5 udah lumayan tua, keyboardnya udah pada copot, pinggiran layarnya udah pecah dan harddisknya udah bunyi2 (akhrinya hdd saya lepas), jadi saya booting pake USB Flashdisk.

    Awalnya yg Flashdisk saya pasang Kali Linux rolling dengan persistence storage, nah persistence storage ini ribet banget kalo mau disetup soalnya pake partisi sendiri dengan filesystem yang beda dan gak bisa diakses sama OS Windows. Tapi karena udah lama gak saya update, akhirnya saya nyari2 distribusi linux lain dengan persistence storage juga.

    Ternyata saya nemuin namanya Parrot Linux, saya download yang kecil aja yg tanpa security tools, file ISOnya cuma 2GB, karena di Kali Linux aja saya cuma pake fluxion, yg lain2 gak pernah saya sentuh. Dan setup persistence storage ternyata gampang banget kalo pake Rufus. Tinggal pake slider kita geser mau berapa GB storagenya.

    Btw, saya pake software Barrier untuk share keyboard sama mouse wireless. Jadi bisa pake 1 mouse dan 1 keyboard untuk 2 atau lebih komputer dengan berbagai OS. Jadi biarpun yg satu Parrot Linux yg satunya Windows tetep bisa, biar tangan gak cape pindah2.

    Udah ah, mau ngetes2 lagi.

  • Komputer,  Omong Kosong

    Demam Text

    Di OSNews.com ada artikel dengan judul The plain text project. Begitu baca langsung aja dalem hati teriak “Gue banget tuh!” (soalnya posisi lagi di kantor, jadi teriaknya dlm hati aja). Begitu saya buka, ternyata isinya tentang orang yang senang memakai plain text untuk menyimpan informasi/catatan pribadi. Bener2 gua banget dah, karena terus terang aja, file text saya nyebar dimana-mana. Kalo yg punya web mending, dia teratur, tapi karena saya gak bisa nentuin ini kelompok yg mana, akhirnya saya simpen lagi di file text terpisah. Pas giliran mau baca lagi lupa itu file ditaro dimana.

    Tapi berkat informasi dari website itu, saya bisa kenalan sama TiddlyWiki. TiddlyWiki dirancang untuk menyimpan informasi dalam bentuk artikel wiki, tapi disimpan dalam 1 file html. Waktu saya download gedenya 2MB. Yang bikin ill-feel cara nyimpen datanya. Pusing. Udah nyoba yg pake php (biar bisa diakses dari mana aja) tapi gagal terus. Ada juga yg pake local storage nya browser, tapi ini data bisa hilang kalo gak di-export, dan nyoba exportnya kok gak ada yg enak gitu. Terakhir saya pake yg versi NodeJS, karena termux di Redmi2 saya udah saya pasangin nodejs jadi bisa tuh bikin di komputer, filenya di-zip terus di upload ke server, nanti dari termux di download dan di-extract ke folder data TiddlyWiki di hape. Memang agak ribet, tapi lumayan lah.

    Kalo dipikir2, TiddlyWiki ini mirip sama program saya yg NoteJS. NoteJS benar2 offline (tidak mengirimkan data keluar), bisa diakses langsung htmlnya di browser (gak harus pake hosting server), dan kerennya NoteJS bisa export dan import data dalam 1 file yang terenkripsi. Minusnya cuma 1, karena gak nyimpen apa2, jadi tiap kali mau “lock data” selalu nanya passwordnya dengan konfirmasi (jadi 2x ngisi password), soalnya kalo password lock-nya disimpen (dimanapun mau cookie, variable, atau apapun) pasti bisa kebaca sama orang.

    Sebenernya saya mau yg kaya TiddlyWiki begini, tapi ada beberapa feature tambahan:
    o File program hanya dalam 1 file html (yg ini udah).
    o Data disimpan di lokal (lebih disukai: sqlite; blm ada yg bikin).
    o Bisa export dan import dari 1 file (yg ini kurang bagi saya).
    o Bisa export data ke web (hosting gratisan, yg ini blm).
    o Bisa import data dari web (hosting gratisan).

    Sebenernya bisa aja sih modif NoteJS biar bisa nyimpen di web. Kan udah punya domain sendiri juga. Tapi sebagai programmer malas, saya harus rela nyari2 yg udah ada dulu.

  • Omong Kosong

    Kenapa?

    Waktu baca buku Senopati Pamungkas karya Arswendo Atmowiloto (alm), sempat muncul pemikiran di benak saya bahwa segala macam intrik Halayudha untuk mengadu domba, melancarkan fitnah tidak akan bisa tercapai apabila ada komunikasi langsung antara pimpinan dan bawahan. Karena hanya ada jalur informasi eksklusif dari dan menuju raja, maka pemegang jalur eksklusif itu mempunyai peran yang sangat vital. Dan jika yang memegang peranan itu bersifat licik seperti Halayudha, maka yang terjadi adalah malapetaka.

    Saya mengandaikan cerita pada sebuah kerajaan itu pada Indonesia jaman sekarang (pada waktu itu masih sekitar tahun 2007/2008). Saya yakin kejadian dalam novel itu tidak akan pernah terjadi di jaman canggih seperti sekarang ini, karena jalur komunikasi sudah sangat terbuka, Presiden pasti punya lebih dari satu jalur informasi. Apalagi kalau internet sudah benar-benar merambah ke seluruh masyarakat, maka tidak akan ada lagi yang namanya fitnah, karena semua bisa dikonfirmasi dengan mudah.

    Tapi saat ini, ketika internet nyata-nyata menyentuh peloksok daerah di Indonesia, ternyata pemikiran saya terbukti salah, malah bertolak belakang dengan kenyataan. Sentuhan teknologi informasi yang mudah dan merambah ke segala peloksok negeri malah menimbulkan disinformasi massif, fitnah massal, bahkan memicu kerusuhan yang menuai korban jiwa.

    Orang-orang percaya bahwa penyakit kanker itu tidak ada, hanya karena melihat konten youtube dengan suara digital dari google. Mereka “menuduh” dokter berbohong dan lebih mempercayai pembuat konten yang kita tidak tahu latar belakang pendidikannya apa, kompetensinya dalam bidang kedokteran yang gak jelas, bahkan nama aslinya pun disembunyikan.

    Dan orang lebih percaya fitnah berantai lewat sosial media daripada situs berita resmi yang memegang teguh integritas pers, menuding bahwa media-media nasional itu hanya “corong pemerintah” yang beritanya sudah diatur sesuai keinginan pemerintah.

    Dan saya akhirnya nyerah, sesudah mencoba memikirkan dan bertanya-tanya “Kenapa?”.

  • Memori,  Omong Kosong

    Flashback: Semasa SD

    Semasa kecil saya sekolah di SD Negeri 01 Pagi, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara. Kompleks rumah tinggal saya tepat di sebrang pintu gerbang sekolah saya. Jadi saya gak bisa bolos dan main2, pasti ketahuan. Teman semasa SD biasanya lumayan dekat, karena 6 tahun sekolah bersama, biarpun begitu tetap saja teman baik saya hanya sedikit. Ada beberapa orang yang sampai saat ini masih saya ingat (minimal namanya), karena menurut saya bukan pelanggaran privasi, saya sebut saja namanya disini: Hersal Doddy Mulyawan, Andi Riadi, Eko Purnomo. Saya masih ingat beberapa nama lain, tapi karena tidak terlalu akrab, saya tidak sebut disini.

    Ada event yang entah kenapa melekat di kepala saya, suatu hari saat kelas 4 atau kelas 5 (saya lupa tepatnya), pada hari peringatan Isra’ Mi’raj di sekolah saya tidak ada acara yang lumayan besar (biasanya pake panggung di lapangan), cuma seingat saya cuma pakai 2 ruang kelas yang sekatnya dibuka dan pakai pengeras suara. Karena tidak ada ustadz, kalo gak salah yang ceramah itu Ibu Kepala Sekolah.

    Ibu Kepala Sekolah cerita, pada saat dia ke Mekkah, dia sempat mencium batu hitam yang wangi namanya Hajar Aswad. Dan ketika acara selesai, saya beserta dua teman dekat saya: Andi dan Eko (si Dodi gak tau kemana, lupa) ngobrol sambil jalan menuju gerbang sekolah. Saya lupa perkataan persisnya, tapi Andi heran ada batu hitam yang wangi, terus dia ngomong: pokoknya kalo kita udah gede nanti, kalo ada yang ke Mekkah harus liat batu hitam itu, nanti kasih tau ke yang lain kalo batu itu benar2 ada. Sesudah sampai pintu gerbang sekolah, kami bertiga berpisah, Eko ke arah kanan, Andi ke kiri dan saya lurus ke depan.

    Dan entah kenapa, setelah bertahun-tahun berlalu, saya masih ingat janji tiga orang bocah SD itu. Saya gak tau apakah mereka ingat janji yang pernah kami ikrarkan itu. Dan sampai saya menulis blog ini saya belum pernah ke Mekkah, gak tau si Andi atau Eko. Di tahun 2005 entah kenapa saya ingat kejadian itu, yang lalu saya jadikan puisi untuk mengenangnya.

    Ingkar Janji

    semasa kecil kita pernah bermimpi
    ah, kau bilang itu janji
    suatu saat nanti, bersama, kita ke tanah suci
    saksikan bahwa hajar aswad memang hitam
    buktikan bahwa hajar aswad memang wangi

    tapi kau ingkar janji
    kau hadap Illahi tanpa ke tanah suci
    aku tahu kau tanya pada-Nya
    tentang tanah suci dan batunya yang wangi
    dan menyimpan jawab-Nya untukmu sendiri

    :: 27.07.2005 (where are you now?)

    Btw, tadi salah satu nama saya cari di google, dan muncul persis namanya. Ada di daftar relawan Prasan (ada account IG-nya). Saya cari di twitter juga dapet, tapi gak bisa dm. Akhirnya saya dm di IG, gak tau deh dia aktif di IG apa nggak.