Omong Kosong

Pemimpin Impian

Kemarin, di MetroTV ada acara/berita (saya gak tau nama acaranya apa) yang sebagian isinya adalah masyarakat umum yang masuk ke kotak/bilik yang seperti bilik telp umum, disana mereka menyuarakan pimpinan/presiden seperti apa yang diharapkan nanti terpilih di pemilu 2014.

Saya agak heran karena semua komentarnya normatif, gak ada “greget” nya. Kalo saya yang ditanya presiden seperti apa yang saya mau, ini jawaban saya:

Saya mau punya presiden yang punya empati terhadap nasib rakyatnya, yang hatinya tergetar melihat luapan lumpur di Sidoarjo, yang hatinya duka dan marah melihat luka menganga di bumi Papua, yang air matanya menetes melihat runtuhnya sekolah2 di seluruh negeri. Tapi kesedihan dan air mata itu hanya menetes saat dia sedang sendirian dan tak ada orang lain yang tau. Sedang ketika dia tampil dihadapan rakyatnya, yang terlihat adalah pemimpin yang tegas tanpa ragu2 membela rakyat dan harkat serta martabat bangsa di mata dunia.

Saya ingin punya pemimpin yang punya “sabdo pandito ning ratu”. Semua ucapannya akan terwujud. Terwujud karena sang pemimpin itu akan berusaha dan kerja keras tanpa henti untuk mewujudkan kata2nya itu. Sekali terucap akan memakmurkan rakyatnya maka dia akan bekerja siang malam sampai kata2 itu menjadi kenyataan. Itulah yang saya sebut sebagai manusia sakti di zaman ini.

Saya ingin punya pemimpin yang selaras dengan alam semesta. Kita hidup memijakkan kaki di atas bumi, menumpang kepada alam, maka sudah selayaknya menjaga, merawat dan melestarikan. Jika kita yang menumpang, secara sembarangan mengeksploitasi habis2an tanpa ada usaha melestarikan, maka kita tidak ubahnya seperti benalu yang merugikan. Pemimpin yang selaras dengan alam, tidak akan membiarkan bumi pijakkannya menjadi rusak, karena akibat dari kerusakan itu akan dirasakan oleh rakyatnya sendiri.

Duh Gusti, dimana kami mencari ksatria sejati yang layak memimpin negeri ini. Bukakan mata hati kami, agar jelas terlihat sang ksatria diantara para pengumpul padi untuk lumbung sendiri.